Misteri Konspirasi Dibalik Krisis 1998 Di Indonesia

Misteri Konspirasi Dibalik Krisis 1998 Di Indonesia

Misteri Konspirasi Dibalik Krisis 1998 Di Indonesia | Un1x Project | Jika ingin menghancurkan sebuah negara, tidak perlu dengan peperangan, itulah yang terjadi saat krisis moneter 1998 yang mendera Indonesia, masyarakat bawah menjadi delapan kali lebih miskin. Sebab kurs rupiah yang tadinya 2500/dolar terjun bebas menjadi 20000/dolar. Perusahaan-perusahaan mendadak bangkrut, puluhan ribu tenaga kerja terpaksa angkat kaki karena pabrik tak sanggup lagi beroperasi. Puncaknya adalah jatuhnya ditaktor besar tanah air yang telah 30 tahun berkuasa, H.M Soeharto.
Quote:
Tak tanggung-tanggung, Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad secara terang-terangan menuding Soros lah yang menjadi dalang dari krisis ekonomi Asia. Sebagai seorang yahudi Amerika yang menjadi gembong pemain varas (valuta asing), ia memborang persediaan dollar dipasaran. Tepat ketika Indonesia membutuhkan dollar untuk membayar hutang-hutangnya yang jatuh tempo.
Pada aspek ini, banyak yang mengaitkan dengan skenario 1967. Tepat setelah 30 tahun saat pemerintahan orde baru memulai utang besar-besaran kepada Amerika dan para sekutunya. Disinilah Amerika mendapatkan keuntungan ganda. Selain bunga utang yang dibayarkan, nilai rupiah sangat rendah. Pada saat itulah banyak korporasi Amerika ‘menyerbu’ Indonesia untuk membeli saham-saham yang diobral murah. Mereka juga membeli produk-produk Indonesia yang tak ada nilainya, dan menjual dengan harga tinggi kepada negara-negara Eropa dan daratan Amerika Utara. Soros sendiri merupakan tangan Amerika yang digunakan untuk mengaduk-ngaduk keuangan Asia terutama Indonesia.

Dugaan peran Soros juga datang dari Amerika sendiri. Seorang ekonom terkenal dari Massahussets Institutet of Techonology (MIT) juga menyebutkan bahwa Soros melakukan konspirasi dengan pemerintah Amerika. Tujuannya adalah menjatuhkan ekonomi Asia yang saat itu sangat kuat dan diperkirakan membahayakan Amerika. Tuduhan ini segera dibantah Soros dengan mengatakan bahwa perusahaannya, Quantum Fund, justru mengalami kerugian ketika membeli rupiah Indonesia pada kurs 4000/dollar. Menurutnya, spekulan hanya pembawa pesan, sedangkan krisis ekonomi akibat pengelolaan negara yang buruk. Bisa jadi ia ada benarnya. Tapi lebih dari itu, sebagai spekulan dia telah memancing di air keruh dengan memanfaatkan kerakusan pemerintahan yang berkuasa.
Buruknya perbankan Indonesia saat itu juga menjadi pemicu besarnya dampak yang dirasakan. Persekongkolan bank-bank menyalurkan dana kepada grup-grup perusahaan sendiri telah menjadikan aturan pembatasan kredit dilanggar sesuka hati. Akibatnya 16 bank ditutup oleh IMF dan indonesia menombok kerugian bank-bank melebihi Rp.600 trilliun.
Ketika indonesia mengalami krisis pada tahun 1997, muncul resep pamungkas yang justru menenggelamkan perekonomian indonesia ketitik terendah. Resep tersebut adalah International Monetery Fund (IMF). Selama kurang lebih 10 tahun Indonesia berada dalam cengkramannya. Lamanya keberadaan IMF karena dengan sengaja mitos-mitos yang diembuskan oleh barisan ekonomi orde baru yang dikenal sebagai Mafia Berkley.

Quote:
Mitos-mitos yang ditiupkan kepada masyarakat agar memercayai IMF adalah :
· Keberadaan IMF akan mampu menarik dan meningkatkan kepercayaan investor asing kepeda Indonesia, kenyataannya adalah tingkat kepercayaan investor asing kepada Indonesia tidak membaik. Faktanya, alasan investor berminat berinvestasi adalah justru pada kestabilan ekonomi dan politik. Ketika itu situasi sedang gonjang-ganjing untuk menjatuhkan Soeharto dan juga Gus Dur
· Apabila Indonesia berhutang kepada IMF untuk mengatasi krisis ekonomi, maka semakin besar modal asing yang masuk. Faktanya, semakin besar Indonesia berhutang kepada IMF, semakin kecil modal yang masuk.
· Keberadaan IMF akan mampu menstabilkan rupiah. Faktanya, kurs tukar rupiah semakin gonjang-ganjing ketika sistem kurs dilepas mengembang bebas. Setiap kali IMF datang ke Indonesia, kurs rupiah anjlok terhadap dollar Amerika.
Menurut Rizal Ramli, mantan menko perekonomian era Megawati, ada tiga tahap penghancuran perekonomian Indonesia akibat ulah IMF. Pertama, kebijakan IMF untuk menstabilkan keuangan nasional justru berujung pada sulitnya pasar uang karena bunga pinjaman antabank melonjak dari 20 persen menjadi 300 persen pada kuartal ketiga tahun 1997. Perintah serampangan IMF pada Indonesia untuk melikuidasi 16 bank tanpa persiapan, menyebabkan negara merugi sebanyak Rp.650 trilliun. Lalu tingkat kepercayaan kepada bank nasional ambruk dan memicu penarikan uang besar-besaran.

Penghancuran yang kedua adalah perintah untuk mengambil alih utang swasta menjadi utang publik yang harus dibayar dengan uang rakyat. Akibatnya sejak ditangani IMF, utang pemerintah indonesia meningkat 2 kali lipat. Karena tidak sanggup membayar, indonesia mengalami debt trap. Artinya, kita harus berhutang lagi untuk membayar hutang yang lama.

Tahap ketiga dari penghancuran kita adalah saat pemerintah harus mencicil hutang tiap tahun dengan APBN. Akhirnya, tidak ada cara lain, praktik-praktik pasar bebas ala barat pun harus dilakukan, yaitu mencabut subsidi untuk rakyat. Secara serentak tarif BBM, pajak, dan listrik melonjak bersamaan. Kenaikan ketiga sektor tersebut mengakibatkan kenaikan inflasi menggila.

Share this:

Add your comment
Hide comment

Disqus Comments