Misteri DNA Dari Surga

Misteri DNA Dari Surga

[​IMG]

Sebelum kita lihat lebih lanjut, kiranya kita melihat terlebih dahulu apakah itu DNA (asam deoksiribonukleat), yaitu kode digital penyusun gen yang terdiri dari empat basa heterosiklik: adenin, guanin, citosin dan timin, yang disatukan dalam sebuah struktur spiral ganda. Empat huruf inilah (A, G, C, dan T) yang menentukan makhluk seperti apa kita. Kode-kode ini terdiri dari “kata-kata”, kita sebut dengan kodon, yang masing-masing terdiri dari tiga huruf. Masing-masing merupakan perintah untuk mensintesis asam amino tertentu pembentuk makhluk hidup. Dengan matematika sederhana kita dapat menghitung ada beberapa kombinasi dari keempat huruf tersebut, 4 x 4 x 4 = 64 jenis asam amino. Enam puluh dari kodon tersebut mengacu pada asam amino tertentu. Berhubung hanya ada dua puluh asam amino penyusun makhluk hidup, beberapa kodon membentuk asam amino yang sama, dengan kata lain redundan. Empat kodon lain mempunyai fungsi khusus sebagai tanda baca dalam proses sintesis, yaitu tanda “mulai” dan tiga kodon lain yang menghentikan proses: “tahan”, “berhenti” dan “selesai”; ibarat tanda baca koma, titik koma dan titik. Dengan enam puluh empat kodon tersebut, kita memiliki sebuah petunjuk lengkap untuk menyusun makhluk hidup, bahkan lengkap dengan tanda bacanya.
Kelihatannya sempurna, namun bagaimana tubuh kita tahu untuk membentuk, katakanlah, sel tulang tertentu di bagian tubuh tertentu. Bukankah DNA berisi seluruh informasi rancang bangun tubuh manusia, bukan hanya bagian tertentu? Tentu lebih mudah membayangkan kalau protein di sintesis hanya di satu bagian tubuh, lalu diangkut ke bagian perakitan di seluruh tubuh. Kenyataannya tidaklah demikian, karena protein dibuat di seluruh jaringan tubuh. Bagaimana suatu jaringan tahu sel apa yang harus dibuat, dan terbuat dari protein apa saja sel tersebut? Tubuh kita memiliki semacam peta kimiawi yang disertai oleh agen pengatur berupa enzim. Bagian tubuh yang berbeda memiliki ciri kimiawi yang berbeda dan enzim yang berbeda. Peta kimiawi membuat sel hanya membaca bagian tertentu dari DNA yang terdapat di dalam setiap inti sel dan mensintesisnya. Dengan itulah tubuh kita tahu apa yang harus disintesis di seluruh bagian tubuh: sel epidermis di jaringan kulit, sel darah merah di sumsum, dan sebagainya.

Analogi sungai yang dipakai Dawkins untuk menggambarkan seluruh proses evolusi kehidupan sungguh menarik. Sungai itu digambarkan berisi aliran data-data DNA. Kesalahan penggandaan menyebabkan sungai kehidupan ini bercabang dan membentuk spesies baru. Sekali bercabang mereka tidak akan bertemu kembali. Mengapa sungai itu bercabang dan terpisah selamanya masih menjadi misteri ilmu pengetahuan yang perlu dipecahkan. Salah satu jawaban yang paling masuk akan adalah isolasi geografis. Individu-individu yang secara kebetulan merupakan variasi dari moyangnya terpisah secara geografis sehingga tidak dapat lagi kawin dengan individu yang memiliki gen yang sama dengan moyangnya. Bila mereka masih bisa kawin, perbedaan-perbedaan tersebut akan terserap dan dalam beberapa generasi kemungkinan gen yang berbeda tersebut bisa jadi malah tereleminasi. Hal ini terlihat jelas dari pemisahan spesies kera Dunia Lama (Eurasia) dan Dunia Baru (Amerika) yang benar-benar menunjukkan ciri yang berbeda. Sebelum lempeng Eurasia dan Amerika berpisah, mereka masih bisa kawin mawin. Tetapi begitu terpisah, mereka berkembang melalui jalur yang berbeda, terpisah untuk selamanya, sehingga kalau mereka dipertemukan lagi (oleh manusia) mereka sudah tidak bisa menghasilkan keturunan yang fertil lagi.
Mungkinkah proses evolusi ini menghasilkan beraneka ragam makhluk yang membentuk kesetimbangan ekologis yang sempurna? Banyak orang yang berargumen bahwa penciptaan tidak mungkin terjadi karena proses evolusi karena semuanya terlihat begitu sempurna, terlalu sempurna untuk sebuah proses yang kebetulan. Contohnya: proses penyerbukan terjadi karena bunga mengeluarkan feromon, semacam bau-bauan yang dikeluarkan tawon betina untuk menarik perhatian tawon jantan. Tanpa itu tawon jantan tidak akan menyinggahi bunga untuk membantu penyerbukan karena mengira sang bunga adalah pasangannya. Semua seolah-olah sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Bagaimana kita menjelaskan ini dengan kaca mata teori evolusi? Pada mulanya bunga tersebut tidak mengeluarkan feromon, dan proses penyerbukan tidak terjadi dengan bantuan tawon, melainkan mungkin hanya dengan tiupan angin, misalnya. Suatu saat timbul mutasi yang secara kebetulan membuat bunga mengeluarkan bau yang mirip dengan feromon. Kejadian tersebut benar-benar terjadi karena kebetulan, semata-mata karena statistik. Pasti ada bunga yang bermutasi mengeluarkan bau yang sama sekali tidak berguna. Seleksi alamlah yang membuat bunga yang mengeluarkan feromon bertahan dan berkembang biak lebih baik dari pada yang tidak, dan yang lain itu akan punah karena kalah bersaing. Sesederhana itu, tanpa perlu campur tangan ilahi. Kalau kita mau melihat lebih dalam lagi, bahkan kata “sempurna” adalah sebuah kata yang problematik, oleh karena itu kita akan menggunakan kata yang lebih tepat yaitu “fit” atau sesuai. Sebuah ciri bisa jadi sempurna untuk suatu lingkungan tapi justru menjadi penghambat dalam lingkungan yang lain, dan tentu saja lingkungan terus berubah. Perubahan iklim yang drastis justru bisa membuat sebuah spesies yang sudah beradaptasi baik dengan iklim itu tidak bisa bertahan. Hanya spesies yang bisa terus menyesuaikan diri yang dapat bertahan.
 
adnanmu

adnanmu Member

Buku ini ditutup dengan indah oleh Dawkins dengan menggambarkan secara keseluruhan bagaimana proses evolusi terjadi dengan dimulai dari DNA sampai mencapai tingkat kerumitan menjadi makhluk cerdas yang mampu bertanya tentang dirinya sendiri.

Ambang pertama adalah replikasi itu sendiri, yaitu sebuah sistem yang mampu menggandakan dirinya dengan kesalahan acak yang sesekali timbul.

Ambang kedua adalah ciri, yang membuat satu gen berbeda dengan gen lainnya.

Ambang ketiga adalah tim replikator, gen tersebut membentuk sel yang akan mempermudahnya untuk melakukan penggandaan.

Ambang keempat adalah ambang sel banyak, di mana sel-sel mulai bekerja sama sehingga membentuk sebuah organisme yang kompleks, yang saling bersaing dengan kelompok sel lainnya. Mulanya yang terbentuk hanyalah koloni-koloni sel. Ketika koloni-koloni tersebut semakin sukses, sel-sel semakin terspesialisasi sehingga sel-sel tersebut hanya bisa melakukan satu fungsi atau beberapa fungsi saja, tidak seperti makhluk sel tunggal yang harus melakukan seluruh fungsi untuk bertahan hidup.

Ambang kelima adalah pembentukan sel syaraf. Syaraf membuat makhluk hidup bereaksi terhadap lingkungannya. Ia bisa takut, kabur, lapar dan gelisah. Ia menjadi sangat cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bukan hanya secara genetis, tapi juga secara behavioral.

Ambang keenam adalah ambang kesadaran, di mana sang makhluk sadar akan keberadaan dirinya di dunia. Beberapa filsuf secara berkelakar pernah berkata bahwa ambang ini belum dilewati oleh beberapa manusia yang begitu bebal hidupnya.

Ambang ketujuh adalah ambang bahasa. Bahasa sendiri adalah juga replikator tersendiri. Ia adalah replikator budaya yang membuat sebuah kebiasaan dengan mudah ditularkan dari satu individu ke individu yang lain.

Ambang kedelapan adalah kooperasi. Hal ini analogi dengan sel yang bekerja sama satu sama lain membentuk koloni sel dan akhirnya makhluk bersel banyak. Dalam hal ini individulah yang berkooperasi dengan individu lain membentuk masyarakat yang bersaing satu sama lainnya. Masyarakat, dengan demikian telah menjadi sebuah individu baru yang juga tunduk pada hukum evolusi.

Ambang kesembilan adalah ambang komunikasi radio, yang memungkinkan kita untuk mengirimkan informasi sampai keluar dari planet kita yang tercinta ini.

Dan ambang kesepuluh yang terpikirkan adalah perjalanan luar angkasa mengkoloni alam lain. Sungguh mengejutkan bahwa suatu kebetulan kecil yang membentuk sebuah DNA dapat membawa ke sebuah konsekuensi yang tak terbayangkan setelah milyaran tahun kemudian, hanya karena ia mampu mereplikasikan dirinya. Apa yang terpenting dalam hidup ini? Banyak orang yang berpikir bahwa yang paling penting adalah mencari uang. Tapi cobalah benar-benar Anda renungkan, apa yang terpenting dari hidup ini. Mungkin menjawab pertanyaan ini menjadi sulit kalau Anda hanya membatasi Anda pada usia Anda sendiri. Bagaimana kalau pertanyaan itu kuubah menjadi apa yang terpenting bagi umat manusia? Tiada jawaban lain selain bisa terus berkembang biak dan dengan sukses meneruskan gen-gen yang terbaik kepada keturunan-keturunan kita selanjutnya.

Tak ada jawaban yang lebih masuk akal dari itu. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar punya masa depan sampai anak-anak cucu kita? Apakah umat manusia punya masa depan? Kiranya masih banyak yang harus kita pahami tentang diri kita sendiri. Di mana sesungguhnya posisi kita, manusia, dalam seluruh konstelasi jagat ini. Apakah kita satu-satunya makhluk pandai di jagat ini. Mungkinkah suatu saat simpanse atau gorila mencapai tahap seperti kita, seperti yang digambarkan film “Planet of the Apes”? Kiranya buku ini bisa membuat kita lebih banyak merenung tentang hakekat kita dan posisi kita dalam alam semesta ini.

Share this:

Add your comment
Hide comment

Disqus Comments