5 Gaya Hidup Budaya Wanita Jepang Setelah Menikah

5 Gaya Hidup Budaya Wanita Jepang Setelah Menikah

Gaya Hidup Budaya Wanita Jepang Setelah Menikah – Jepang, seperti masyarakat pada umumnya, memiliki sikap dasar sendiri tentang pernikahan. Beberapa di antaranya mungkin bisa mengejutkan bagi pria asing yang menikah dengan seorang wanita Jepang.

Hal ini dapat menjadi kesempatan bagi seorang laki-laki atau perempuan belajar lebih mengenal budaya  negara lain dengan cara yang lebih mendalam.
Prinsip Wanita Jepang Setelah Menikah. inilah 5 Gaya Hidup Budaya Wanita Jepang Setelah Menikah:

budaya wanita jepang

1. Istri lebih memilih menjadi ibu rumah tangga

Meskipun Jepang memberlakukan undang-undangan untuk kesetaraan gender pada kesempatan kerja sejak 1986, namun peran tradisional suami yang bekerja dan mencari nafkah, sedangkan istri bertugas di rumah untuk merawat suami dan anak masih belum lekang oleh waktu.Pola pikir Jepang ini memang tidak mutlak berlaku, namun umum dilakukan oleh wanita-wanita Jepang.

2. Istri mengontrol dompet suami

Laki-laki di Jepang secara tradisional diberikan tanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan pengendalian anggaran dan pengeluaran umum dipegang oleh istri mereka.

3. Bahasa

Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan dua kewarganegaraan berbeda adalah bahasa internasional. Meskipun kedua pasangan adalah bilingual dan dapat saling mengerti, konvensi linguistik tertentu masih bisa menyebabkan adanya salah pengertian.

4. Jarang menitipkan anak

Di Barat, pasangan yang sudah menikah boleh saja menitipkan anak-anak mereka ke rumah saudara atau tetangga ketika mereka ingin makan malam romantis berdua saja di restoran. Tapi di Jepang, menitipkan anak anda di rumah seorang kerabat atau di tempat penitipan anak sementara orang tuanya bersenang-senang atau berkencan malam itu sangat jarang.

5. Panggilan sayang

Pola bicara pasangan merupakan refleksi dari pola berbicara sang anak. Oleh karena itu, Jepang mengharuskan aturan panggilan di dalam keluarga. Misalnya, setelah bayi pertama anda lahir, maka anda dan pasangan anda tidak lagi boleh lagi saling memanggil nama, melainkan menggantinya dengan okaa-san (ibu) dan otou-san (ayah).

Share this:

Add your comment
Hide comment

Disqus Comments